Jakarta, 5 Juni 2025 – Malam takbiran Idul Adha 1446 H, yang jatuh pada Kamis malam, 5 Juni 2025, menandai detik-detik menjelang perayaan Hari Raya Kurban. Momentum sakral ini, yang dirayakan setiap tanggal 10 Zulhijah, merupakan kesempatan berharga bagi umat Islam untuk memperkuat ikatan spiritual dengan Sang Khalik melalui berbagai amalan sunnah. Penetapan tanggal 10 Zulhijah sebagai Idul Adha 1446 H pada 6 Juni 2025 telah diputuskan melalui sidang isbat yang digelar pada Selasa, 28 Mei 2025 lalu, menandai berakhirnya hitungan waktu menuju puncak perayaan kurban.
Malam takbiran, yang juga dikenal sebagai Lailatul Jaiza (malam pembagian hadiah), bukan sekadar malam pergantian tahun Hijriah, melainkan waktu yang dipenuhi berkah dan keberkahan. Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang menghidupkan malam Idul Fitri dan Idul Adha atas dasar perintah Allah, maka hatinya tidak akan pernah mati pada hari semua hati mati.” (HR Ath-Thabrani, Ad-Daruqutni, dan Ibnu Majah dari Ubadah bin Shamit). Hadits ini menekankan pentingnya mengisi malam takbiran dengan amalan-amalan yang mendekatkan diri kepada Allah SWT, sekaligus menjadi refleksi diri di ambang perayaan kurban yang sarat makna.
Tradisi mengumandangkan takbir, yang menjadi ciri khas malam takbiran, merupakan manifestasi syukur dan kebesaran Allah SWT. Suara takbir yang menggema di masjid-masjid dan mushola-mushola menciptakan atmosfer spiritual yang khidmat, mengingatkan umat akan ketaatan dan pengabdian kepada-Nya. Lebih dari sekadar ritual, takbiran merupakan ekspresi kegembiraan dan kesiapan menyambut hari raya kurban dengan hati yang bersih dan penuh keikhlasan.
Namun, takbiran bukanlah satu-satunya amalan yang dianjurkan pada malam yang penuh berkah ini. Berbagai aktivitas spiritual lainnya dapat dikerjakan untuk memaksimalkan nilai ibadah di malam takbiran. Mengutip dari buku Tuntunan Puasa, Tarawih, dan Shalat Idul Fitri karya Buya Hamka, setidaknya terdapat beberapa amalan yang dapat dikerjakan:
1. Mengagungkan Allah SWT Melalui Zikir:

Malam takbiran merupakan waktu yang tepat untuk memperbanyak zikir, sebuah bentuk ibadah yang menyatukan hati dengan Allah SWT. Zikir bukan hanya sekadar pengulangan kalimat-kalimat tertentu, melainkan proses mengingat dan merenungkan kebesaran-Nya, sekaligus menumbuhkan rasa syukur dan ketaatan. Anjuran untuk memperbanyak zikir tercantum dalam Al-Qur’an, salah satunya dalam Surah Al-Ahzab ayat 41-42: "Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang." Ayat ini mengajak umat Islam untuk senantiasa mengingat Allah SWT dalam setiap aktivitas kehidupan, terlebih pada momen-momen sakral seperti malam takbiran. Melalui zikir, hati akan menjadi tenang, dan hubungan dengan Allah SWT akan semakin erat.
2. Menunaikan Sholat Isya dan Subuh Berjamaah:
Sholat berjamaah, khususnya sholat Isya dan Subuh, merupakan amalan yang sangat dianjurkan dalam Islam. Pahala sholat berjamaah dilipatgandakan dibandingkan sholat sendirian. Rasulullah SAW bersabda, "Sholat seorang laki-laki secara berjamaah dilipatgandakan pahala sebanyak 25 kali lipat daripada sholat di rumah atau di pasarnya." (HR Bukhari). Melaksanakan sholat berjamaah di masjid atau mushola bukan hanya memperoleh pahala yang lebih besar, tetapi juga menumbuhkan rasa kebersamaan dan ukhuwah Islamiyah di antara sesama jamaah. Atmosfer sholat berjamaah yang khidmat juga dapat menciptakan suasana spiritual yang lebih mendalam pada malam takbiran.
3. Memanjatkan Doa dan Munajat:
Malam takbiran merupakan waktu yang mustajab untuk berdoa. Allah SWT akan lebih mudah mengabulkan doa-doa hamba-Nya pada waktu-waktu tertentu, dan malam takbiran termasuk salah satunya. Imam Al-Baihaqi meriwayatkan dari Imam Syafi’i, yang mengatakan, "Telah sampai kepada kami bahwa Al-Syafi’i mengatakan, ‘Sesungguhnya doa itu mustajab pada lima malam; malam Jumat, malam Idul Adha, malam Idul Fitri, malam pertama bulan Rajab dan malam Nisfu Syaban.’" Oleh karena itu, manfaatkanlah malam takbiran untuk memanjatkan doa-doa baik untuk diri sendiri, keluarga, umat Islam, dan seluruh makhluk ciptaan Allah SWT. Doa yang dipanjatkan dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan akan lebih mudah dikabulkan oleh Allah SWT.
4. Mengumandangkan Takbir dan Tahmid:
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, mengumandangkan takbir dan tahmid merupakan amalan sunnah yang sangat dianjurkan pada malam takbiran. Takbir dan tahmid merupakan ungkapan syukur dan kebesaran Allah SWT. Mengutip dari buku 12 Bulan Mulia karya Abdurrahman Ahmad, kaum muslimin disunnahkan memperbanyak takbir dan tahmid pada malam takbiran. Takbir dan tahmid dapat diumandangkan secara individual maupun berjamaah, baik di rumah, masjid, maupun di tempat-tempat umum lainnya. Namun, perlu diingat agar pengumandangan takbir dan tahmid dilakukan dengan tertib dan tidak mengganggu ketertiban umum.
5. Meningkatkan Amal Ibadah Lainnya:
Selain empat amalan di atas, malam takbiran juga dapat diisi dengan amalan-amalan ibadah lainnya, seperti membaca Al-Qur’an, berdzikir dengan shalawat, bersedekah, dan mempererat silaturahmi dengan keluarga dan kerabat. Semua amalan tersebut akan meningkatkan nilai ibadah dan menjadikan malam takbiran lebih bermakna.
Sebagai penutup, malam takbiran Idul Adha 1446 H/2025 M bukan hanya malam pergantian tahun Hijriah, melainkan momentum untuk memperkuat spiritualitas dan menjalin hubungan yang lebih erat dengan Allah SWT. Dengan mengisi malam takbiran dengan amalan-amalan sunnah, kita dapat memperoleh pahala yang berlimpah dan menyambut Hari Raya Kurban dengan hati yang penuh keikhlasan dan kesucian. Semoga Allah SWT menerima segala amal ibadah kita.



