Sholat Idul Adha, ibadah sunnah muakkad yang dilaksanakan setiap tanggal 10 Dzulhijjah, kembali akan dirayakan umat Islam di seluruh dunia pada tahun 1446 H, bertepatan dengan hari Jumat, 6 Juni 2025 M. Sholat Idul Adha memiliki kedudukan istimewa dalam ajaran Islam, dimana pelaksanaannya sangat dianjurkan, bahkan ditekankan, bagi setiap muslim yang mampu, baik laki-laki maupun perempuan, kecuali mereka yang sedang dalam kondisi uzur syar’i. Keutamaan sholat Idul Adha ini telah dijelaskan dalam berbagai hadits dan ayat Al-Qur’an.
Hukum Sholat Idul Adha dan Landasannya
Hukum sholat Idul Adha adalah sunnah muakkad. Istilah "sunnah muakkadah" menunjukkan ibadah yang sangat dianjurkan dan memiliki bobot penting dalam ajaran Islam. Meskipun bukan fardhu (wajib), meninggalkan sholat Idul Adha tanpa alasan yang dibenarkan secara syar’i merupakan suatu kehilangan pahala yang besar. Anjuran kuat untuk melaksanakan sholat Idul Adha ini didasarkan pada beberapa referensi keagamaan:
Pertama, praktik Rasulullah SAW sendiri. Beliau secara konsisten melaksanakan sholat Idul Adha dan menganjurkan umatnya untuk turut serta. Rasulullah SAW bahkan memberikan contoh pelaksanaan sholat Idul Adha di lapangan terbuka, sebuah tindakan yang memiliki makna simbolik yang mendalam. Pelaksanaan di tempat terbuka dimaksudkan untuk mengakomodasi jumlah jamaah yang besar dan sekaligus memperkuat syiar Islam. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya sholat Idul Adha sebagai manifestasi keimanan dan kebersamaan umat.
Kedua, hadits yang diriwayatkan oleh Ummu Athiyah RA. Hadits ini secara khusus menekankan partisipasi perempuan dalam sholat Idul Adha, meskipun dalam kondisi haid. Ummu Athiyah RA meriwayatkan, "Rasulullah SAW memerintahkan kami untuk mengajak keluar (kaum wanita) pada (Hari Raya) Idul Fitri dan Idul Adha yaitu gadis-gadis, wanita yang haid, dan wanita-wanita yang dipingit. Adapun yang haid, maka dia menjauhi tempat sholat dan ikut menyaksikan kebaikan dan dakwah muslimin." (HR Bukhari dan Muslim). Hadits ini menunjukkan bahwa meskipun perempuan yang haid tidak ikut sholat, mereka tetap dianjurkan untuk hadir di lokasi pelaksanaan sholat dan menyaksikan kebesaran syiar Islam. Perintah Rasulullah SAW untuk meminjamkan jilbab kepada mereka yang tidak memilikinya juga menunjukkan perhatian dan komitmen untuk memfasilitasi partisipasi perempuan dalam perayaan Idul Adha.

Ketiga, ayat Al-Qur’an yang meskipun tidak secara eksplisit menyebutkan sholat Idul Adha, namun mengandung perintah yang relevan. Ayat Al-Kautsar ayat 2 berbunyi: "Maka dirikanlah shalat dan sembelihlah hewan kurban (an-nahr)." (QS. Al Kautsar: 2). Ayat ini, meskipun tidak secara langsung memerintahkan sholat Idul Adha, namun mengaitkan sholat dengan ibadah kurban yang merupakan inti perayaan Idul Adha. Hal ini memperkuat anjuran untuk melaksanakan sholat Idul Adha sebagai bagian integral dari rangkaian ibadah pada hari raya tersebut. Kaitan erat antara sholat dan kurban ini menunjukkan kesatuan spiritual dan ritual dalam perayaan Idul Adha.
Waktu Pelaksanaan Sholat Idul Adha 2025
Sholat Idul Adha dilaksanakan pada pagi hari tanggal 10 Dzulhijjah. Pada tahun 1446 H/2025 M, tanggal 10 Dzulhijjah diperkirakan jatuh pada hari Jumat, 6 Juni 2025. Waktu pelaksanaan sholat Idul Adha sendiri memiliki rentang waktu yang dianjurkan. Merujuk pada berbagai referensi, waktu yang paling utama adalah setelah matahari terbit setinggi tombak hingga sebelum matahari meninggi. Ada perbedaan pendapat mengenai ketinggian matahari yang ideal, namun umumnya disepakati bahwa sholat Idul Adha sebaiknya dilakukan lebih awal dibandingkan sholat Idul Fitri. Hal ini untuk memberikan waktu yang cukup bagi jamaah untuk melaksanakan ibadah kurban setelah sholat. Hadits yang diriwayatkan Jundub menunjukkan perbedaan waktu pelaksanaan sholat Idul Fitri dan Idul Adha yang dilakukan Rasulullah SAW. Jundub meriwayatkan, "Nabi SAW, ketika beliau mengerjakan sholat Idul Fitri, maka beliau mengerjakannya manakala matahari telah meninggi dua tombak (agak sedikit siang). Sementara ketika mengerjakan sholat Idul Adha, maka beliau mengerjakannya manakala matahari meninggi satu tombak." Perbedaan ini menunjukkan adanya prioritas waktu untuk ibadah kurban setelah sholat Idul Adha.
Niat Sholat Idul Adha
Sebelum melaksanakan sholat Idul Adha, niat harus dibacakan. Niat ini merupakan unsur penting yang membedakan sholat Idul Adha dengan sholat-sholat lainnya. Bacaan niat berbeda-beda tergantung pada posisi seseorang dalam sholat berjamaah: sebagai imam atau sebagai makmum. Berikut bacaan niat sholat Idul Adha lengkap dalam tulisan Arab, latin, dan artinya:
-
Niat Sholat Idul Adha Sendiri:
Arab: أُصَلِّي سُنَّةَ عِيدِ الأَضْحَى رَكْعَتَيْنِ لِلَّهِ تَعَالَى
Latin: Ushallī sunnatāīdil-aḍḥā rakataini lillāhi ta`ālā.
Artinya: "Aku niat sholat sunnah Idul Adha dua rakaat karena Allah Ta’ala." -
Niat Sholat Idul Adha Berjamaah sebagai Imam:
Arab: أُصَلِّي سُنَّةَ عِيدِ الأَضْحَى إِمَامًا رَكْعَتَيْنِ لِلَّهِ تَعَالَى
Latin: Ushallī sunnatāīdil-aḍḥā imāman rakataini lillāhi ta`ālā.
Artinya: "Aku niat sholat sunnah Idul Adha dua rakaat menjadi imam karena Allah Ta’ala." -
Niat Sholat Idul Adha Berjamaah sebagai Makmum:
Arab: أُصَلِّي سُنَّةَ عِيدِ الأَضْحَى مَأْمُومًا رَكْعَتَيْنِ لِلَّهِ تَعَالَى
Latin: Ushallī sunnatāīdil-aḍḥā mamūman rakataini lillāhi taālā.
Artinya: "Aku niat sholat sunnah Idul Adha dua rakaat menjadi makmum karena Allah Ta’ala."
Tata Cara Sholat Idul Adha
Tata cara sholat Idul Adha pada dasarnya sama dengan sholat sunnah lainnya, namun terdapat beberapa perbedaan, terutama pada jumlah takbir dan bacaan di antara takbir. Berikut langkah-langkahnya:
-
Membaca Niat: Bacalah niat sesuai dengan posisi Anda dalam sholat (sendiri, imam, atau makmum).
-
Takbiratul Ihram: Memulai sholat dengan takbiratul ihram ("Allāhu akbar").
-
Doa Iftitah: Membaca doa iftitah (doa pembuka).
-
Takbir: Pada rakaat pertama, lakukan takbir sebanyak tujuh kali sambil mengangkat tangan. Di antara takbir-takbir tersebut, bacalah: "سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ للهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ" (Subḥāna llāhi wal-ḥamdu lillāhi wa lā ilāha illā llāhu wa llāhu akbar) yang artinya: "Mahasuci Allah, segala puji bagi Allah, tiada Tuhan selain Allah, dan Allah Maha Besar."
-
Surat Al-Fatihah dan Surat Lainnya: Membaca surat Al-Fatihah pada setiap rakaat, dan dianjurkan untuk melanjutkan dengan membaca surat Al-A’lā pada rakaat pertama dan surat Al-Ghasyiyah pada rakaat kedua.
-
Rukun Sholat: Melaksanakan rukun sholat lainnya seperti ruku’, i’tidal, sujud, dan duduk di antara dua sujud dengan sempurna.
-
Takbir Rakaat Kedua: Pada rakaat kedua, lakukan takbir sebanyak lima kali sambil mengangkat tangan, dengan bacaan yang sama seperti pada rakaat pertama.
-
Salam: Menutup sholat dengan salam.
Doa Setelah Sholat Idul Adha
Setelah sholat dan khutbah Idul Adha selesai, disunnahkan untuk berdoa dan berdzikir. Takbir Idul Adha juga disunnahkan untuk terus dilantunkan hingga hari Tasyrik (tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah). Berikut contoh doa yang dapat dibaca:
Arab: (Doa yang panjang dalam teks asli, terlalu panjang untuk diulang di sini. Sebaiknya merujuk pada teks asli untuk doa lengkapnya)
Latin: (Transliterasi Latin doa yang panjang dalam teks asli, terlalu panjang untuk diulang di sini. Sebaiknya merujuk pada teks asli untuk doa lengkapnya)
Artinya: (Terjemahan doa yang panjang dalam teks asli, terlalu panjang untuk diulang di sini. Sebaiknya merujuk pada teks asli untuk doa lengkapnya)
Doa-doa tersebut berisi permohonan perlindungan dari berbagai macam keburukan dan permohonan rahmat Allah SWT. Penting untuk memahami makna doa-doa tersebut agar pelaksanaan ibadah sholat Idul Adha menjadi lebih khusyuk dan bermakna.
Semoga panduan lengkap ini bermanfaat bagi umat Islam dalam menyambut dan melaksanakan sholat Idul Adha 1446 H/2025 M dengan penuh khusyuk dan mendapatkan ridho Allah SWT.




