Hari Raya Idul Adha, puncak perayaan ibadah haji, tak hanya diwarnai dengan penyembelihan hewan kurban dan pelaksanaan shalat Id. Umat Islam juga dianjurkan untuk melaksanakan mandi sunnah sebelum menunaikan shalat Id, sebuah amalan yang sarat makna dan menjadi bagian integral dari persiapan menyambut hari raya penuh keberkahan ini. Namun, pertanyaan mengenai dasar hukum mandi sunnah Idul Adha ini seringkali muncul, mengingat minimnya hadits shahih yang secara eksplisit memerintahkannya. Artikel ini akan mengulas secara mendalam mengenai tradisi mandi sunnah Idul Adha, menganalisis dalil-dalil yang mendukungnya, serta menjelaskan tata cara pelaksanaannya.
Status Hukum dan Perdebatan Ulama:
Meskipun tidak terdapat hadits mutawatir (hadits yang diriwayatkan oleh banyak perawi dari berbagai jalur sanad yang kuat) yang secara tegas mewajibkan atau bahkan mensunnahkan mandi Idul Adha, para ulama sepakat bahwa mandi pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha termasuk amalan sunnah. Hal ini didasarkan pada ijma’ (kesepakatan ulama) dan sejumlah atsar (perkataan atau perbuatan sahabat Nabi SAW) yang mendukung praktik tersebut. Buku Fiqih Sunnah Jilid 1 karya Sayyid Sabiq, misalnya, menyebutkan bahwa para ulama sepakat akan status sunnahnya, meskipun mengakui absennya hadits shahih yang secara langsung menjelaskan hal ini. Kitab al-Badr al-Munir bahkan mengklasifikasikan hadits-hadits yang membahas mandi hari raya sebagai hadits dhaif (lemah).
Perbedaan pendapat dan interpretasi inilah yang memunculkan perdebatan di kalangan ulama. Namun, kebanyakan ulama berpendapat bahwa meskipun hadits shahih yang secara eksplisit menyebut mandi Idul Adha langka, praktik ini tetap dianjurkan karena didukung oleh beberapa jalur argumentasi:
-
Atsar dari Sahabat: Salah satu dalil yang sering dikutip adalah atsar dari sahabat Nabi, Ali bin Abi Thalib RA. Albani, ulama hadits terkemuka, menyatakan bahwa dalil terbaik untuk kesunahan mandi hari raya adalah riwayat Baihaqi yang menyebutkan percakapan antara Ali RA dengan seorang yang bertanya tentang mandi. Ali RA menjawab, "Mandilah setiap hari jika kamu mau." Ketika ditanya lebih spesifik tentang mandi yang dimaksud, Ali RA menjawab, "(Mandilah) untuk hari Jumat, hari Arafah, hari raya Idul Adha dan Idul Fitri." Albani menilai sanad hadits ini shahih, memberikan bobot yang kuat pada argumentasi kesunahan mandi Idul Adha.
-
Riwayat dari Abdullah bin Umar RA: Riwayat lain yang mendukung praktik mandi sunnah Idul Adha berasal dari Abdullah bin Umar RA. Meskipun redaksi hadits ini tidak secara eksplisit menyebutkan Idul Adha, riwayat tersebut menunjukkan kebiasaan Abdullah bin Umar RA mandi pada hari Idul Fitri sebelum berangkat ke shalat Id. Hal ini dapat diinterpretasikan sebagai sebuah sunnah yang berlaku umum untuk kedua hari raya. (HR Malik dalam Al-Muwatta’)
-
Pendapat Ulama Mazhab: Mayoritas ulama dari mazhab Syafi’i, Maliki, dan Hanbali menyatakan bahwa mandi sebelum shalat Idul Fitri dan Idul Adha adalah sunnah. Pendapat ini diperkuat oleh kitab-kitab fikih klasik, seperti Hasyiyah al-Bajuri jilid 1 karya Syekh Ibrahim bin Muhammad bin Ahmad al-Bajuri. Kitab ini secara eksplisit menyebutkan mandi Idul Adha sebagai salah satu mandi yang dianjurkan. (Ibrahim al-Bajuri, Hasyiyah al-Bajuri Jilid 1, Dar al-Minhaj, 2016)
Niat Mandi Idul Adha:
Sebelum melaksanakan mandi sunnah, dianjurkan untuk membaca niat. Niat ini merupakan bagian penting dari ibadah, menunjukkan kesungguhan dan keikhlasan dalam melaksanakan amalan tersebut. Berikut bacaan niat mandi Idul Adha dalam tulisan Arab, latin, dan artinya:
Arab: نَوَيْتُ سُنَّةَ غُسْلِ لِعِيدِ الأَضْحَىٰ
Latin: Nawaitu sunnatal ghusli li ‘Idil Adha
Artinya: "Saya niat sunnah mandi Idul Adha."
Waktu Pelaksanaan Mandi Sunnah:
Waktu pelaksanaan mandi sunnah Idul Adha memiliki batasan waktu tertentu agar dianggap sah. Mandi sunnah ini dapat dilakukan mulai tengah malam tanggal 10 Dzulhijjah, namun waktu yang paling utama adalah setelah masuk waktu Subuh. Melaksanakan mandi sebelum tengah malam tidaklah sah dan tidak termasuk dalam mandi sunnah Idul Adha.
Tata Cara Mandi Sunnah:
Tata cara mandi sunnah Idul Adha mengikuti kaidah umum mandi junub (mandi besar), namun dengan penekanan pada kebersihan dan kesempurnaan. Mengacu pada buku Ringkasan Fikih Sunnah Sayyid Sabiq karya Syaikh Sulaiman Ahmad Yahya Al-Faifi, yang mengutip contoh praktik Rasulullah SAW, tata cara mandi sunnah ini meliputi:
-
Membasuh kedua tangan sebanyak tiga kali: Hal ini dilakukan untuk membersihkan tangan sebelum memulai proses mandi.
-
Membersihkan kemaluan: Menjaga kebersihan kemaluan merupakan bagian penting dari kesucian diri.
-
Berwudhu seperti wudhu shalat: Wudhu sebelum mandi merupakan sunnah yang dianjurkan, menunjukkan kesiapan diri untuk beribadah.
-
Menyiram seluruh tubuh dengan air: Proses penyiraman air dimulai dari kepala, kemudian sisi kanan tubuh, lalu sisi kiri. Hal ini dilakukan secara merata dan menyeluruh.
-
Memastikan seluruh bagian tubuh terkena air: Perhatian khusus diberikan pada bagian-bagian tubuh yang tersembunyi, seperti sela-sela jari dan lipatan tubuh, untuk memastikan kebersihan yang sempurna.
Kesimpulan:
Mandi sunnah Idul Adha merupakan amalan yang dianjurkan, meskipun status hukumnya sebagai sunnah didasarkan pada ijma’ ulama dan atsar sahabat, bukan hadits shahih yang mutawatir. Praktik ini mencerminkan semangat umat Islam dalam menyambut hari raya dengan kesucian lahir dan batin, sebagai bentuk persiapan untuk menunaikan ibadah shalat Id dan rangkaian ibadah lainnya. Dengan memahami dalil-dalil yang mendukungnya, serta tata cara pelaksanaannya, umat Islam dapat melaksanakan amalan ini dengan penuh keikhlasan dan mendapatkan keberkahan dari Allah SWT. Semoga uraian di atas dapat memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai mandi sunnah Idul Adha.



