Jakarta – Ayat suci Al-Mujadalah ayat 11 menegaskan kedudukan terhormat orang berilmu: "Allah akan meninggikan derajat orang yang berilmu di antara kalian dan orang yang dikaruniai ilmu beberapa derajat." Hadits yang diriwayatkan Ibnu Abbas RA bahkan menempatkan orang berilmu 700 derajat di atas orang beriman namun tak berilmu, dengan jarak antar derajat setara perjalanan lima ratus tahun. Analogi Fath al-Mushali semakin menguatkan pentingnya ilmu: "Bukankah orang yang sakit akan mati tanpa makanan, minuman, atau obat? Begitu pula hati manusia, tanpa hikmah dan ilmu selama tiga hari, ia pasti mati."
Namun, pernyataan-pernyataan tersebut, sekaya dan sekuat apapun bunyinya, tak boleh menumpulkan kesadaran akan keterbatasan ilmu manusia. Kemampuan menciptakan telur atau biji-bijian, misalnya, tak lantas menyamai kekuasaan Ilahi. Manusia mampu menciptakan, tetapi tak mampu menghidupkan; itulah garis pembatas antara kemampuan manusia dan kekuasaan Sang Pencipta. Kehidupan, ruh, adalah wewenang mutlak Allah SWT, suatu realita yang harus selalu diingat dan diyakini. Penerimaan atas ketetapan dan ridha-Nya menjadi kunci keseimbangan spiritual di tengah kemajuan ilmu pengetahuan.
Ironisnya, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi seringkali memicu kesombongan. Kemampuan manusia mengelola sumber daya alam, menciptakan inovasi, dan membangun industri yang canggih — semua berkat ilmu pengetahuan — kadang membuat manusia lupa akan peran Allah SWT sebagai Sang Pencipta dan Maha Kuasa. Mereka seakan mengklaim ilmu pengetahuan sebagai kunci alam semesta, menganggap diri sebagai pengendali takdir, tanpa menyadari bahwa semua itu hanyalah karunia dan amanah dari-Nya.
Surah Ar-Rum ayat 54 mengingatkan kita akan siklus kehidupan manusia: "Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa." Ayat ini menggambarkan perjalanan hidup manusia dari kelemahan bayi hingga kelemahan usia tua, menunjukkan betapa Allah SWT-lah yang mengendalikan segala proses. Puncak kelemahan, kematian, bisa datang kapan saja, baik di usia muda yang penuh kekuatan maupun di usia tua yang rapuh. Keduanya merupakan sunnatullah, kehendak Ilahi yang tak terbantahkan. Surah Yasin ayat 68 menegaskan hal ini: "Siapa yang Kami panjangkan umurnya niscaya Kami balik proses penciptaannya (dari kuat menuju lemah). Maka, apakah mereka tidak mengerti?"
Kebebasan manusia, seluas apapun, harus tetap berada dalam koridor penghambaan kepada Allah SWT. Kebebasan berinteraksi dengan sesama manusia tidak boleh mengabaikan kewajiban spiritual. Justru, penghambaan yang tulus akan melindungi kebebasan tersebut dari penyalahgunaan dan penindasan. Keyakinan akan kepemilikan Allah SWT atas diri manusia akan mencegah kesombongan dan sikap arogan. Ilmu pengetahuan, sehebat apapun, tetaplah anugerah-Nya, bukan hak milik mutlak manusia.

Kesombongan ilmiah seringkali termanifestasi dalam penolakan terhadap realitas kelemahan manusia. Penuaan, penyakit, dan kematian adalah bukti nyata keterbatasan manusia. Apakah ilmu pengetahuan mampu mengatasi penuaan? Tidak. Apakah ilmu pengetahuan mampu menunda atau mencegah kematian? Tidak. Mereka yang mengandalkan ilmu pengetahuan sebagai satu-satunya jawaban atas segala permasalahan hidup, pada akhirnya akan mengalami kekecewaan dan kerugian. Mereka akan menghadapi kebodohan setelah sebelumnya berilmu, lupa setelah sebelumnya mengingat, stres setelah sebelumnya merasa segar, dan kegilaan setelah sebelumnya berakal sehat. Semua kemampuan manusia, termasuk kecerdasan dan ilmu pengetahuan, hanyalah pinjaman yang akan diminta kembali pada saat ajal tiba.
Jika ilmu pengetahuan benar-benar kunci pembuka segala kesulitan dan solusi segala kemustahilan, mengapa ia tak mampu mengatasi penuaan, mencegah uban, atau menghindarkan manusia dari kematian? Jawabannya sederhana: ilmu pengetahuan adalah wasilah, sarana yang diberikan Allah SWT untuk memudahkan manusia memahami dan mengelola alam semesta, bukan pengganti kekuasaan dan kemahakuasaan-Nya.
Oleh karena itu, penyerapan ilmu pengetahuan harus diiringi dengan kesadaran akan keterbatasan manusia dan penghambaan kepada Allah SWT. Kemampuan berilmu adalah karunia yang harus disyukuri dan digunakan untuk kebaikan, bukan untuk membangun kesombongan dan melupakan Sang Pemberi. Keimanan yang teguh akan menjaga keseimbangan antara kemajuan ilmiah dan spiritualitas, mencegah manusia terjerumus dalam kesombongan yang menghancurkan. Semoga Allah SWT memberikan keteguhan iman kepada kita semua agar selalu ingat akan posisi kita sebagai hamba-Nya.
(Aunur Rofiq, Ketua DPP PPP periode 2020-2025. Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.)



