Surat An-Naml ayat 65, sebuah ayat Madaniyah yang termaktub dalam surat ke-27 Al-Qur’an, mengungkapkan kebenaran fundamental tentang pengetahuan ghaib: hanya Allah SWT yang Maha Mengetahui. Ayat ini, dengan tegas dan lugas, membatasi kemampuan manusia dan bahkan para malaikat dalam memahami hal-hal yang tersembunyi di balik tabir waktu dan ruang. Pemahaman mendalam terhadap ayat ini membuka jendela pemahaman yang lebih luas tentang keterbatasan manusia dan keagungan kekuasaan Allah.
Ayat tersebut, dalam bahasa Arab, berbunyi: "قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ ۖ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ" (Qul laa ya’lamu man fis-samaawaati wal-ardhi al-ghayba illaallaah, wa maa yasy’uruuna ayyaana yub’a’tsuun). Artinya, "Katakanlah: ‘Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara ghaib kecuali Allah’, dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan."
Ayat ini, dalam konteks historisnya, disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai respons terhadap pertanyaan dan spekulasi yang beredar di tengah masyarakat Makkah saat itu. Masyarakat Jahiliyah, dengan segala keterbatasan pemahamannya, seringkali mencoba menebak masa depan, berharap mendapatkan kepastian tentang hal-hal yang tersembunyi. Ayat ini menjadi penegasan yang kuat bahwa upaya tersebut sia-sia, karena hanya Allah SWT yang memiliki pengetahuan mutlak tentang ghaib.
Definisi Ghaib dan Cakupannya:
Istilah "ghaib" dalam ayat ini merujuk pada segala sesuatu yang tersembunyi dari panca indra manusia dan di luar jangkauan akal pikirannya. Ini mencakup berbagai aspek kehidupan, mulai dari hal-hal yang bersifat personal, seperti jodoh, rezeki, dan ajal, hingga peristiwa-peristiwa besar yang akan terjadi di masa depan, seperti hari kiamat. Ghaib bukan sekadar hal-hal yang belum terjadi, tetapi juga meliputi informasi yang tersembunyi meskipun telah terjadi, namun tidak diketahui oleh manusia.

Tafsir Kemenag RI memberikan penafsiran yang lugas: ayat ini merupakan perintah Allah kepada Nabi Muhammad SAW untuk menjelaskan kepada kaum musyrik Makkah bahwa hanya Allah SWT yang mengetahui perkara ghaib. Ini sekaligus membantah klaim-klaim sesat yang mungkin muncul dari kalangan mereka yang mengaku mengetahui hal-hal ghaib.
Lebih jauh, tafsir ini menekankan bahwa "perkara ghaib" bukan hanya sekadar peristiwa-peristiwa besar yang bersifat kosmis, tetapi juga mencakup aspek-aspek kehidupan sehari-hari yang tak terjangkau oleh kemampuan manusia. Kemampuan manusia, seberapa canggih pun teknologinya, tetap terbatas dalam memahami rahasia-rahasia alam semesta dan takdir individu.
Implikasi Ayat terhadap Kehidupan Manusia:
Surat An-Naml ayat 65 memiliki implikasi yang sangat mendalam terhadap cara pandang manusia terhadap kehidupan. Ayat ini mengajarkan beberapa hal penting, antara lain:
-
Ketawakkalan kepada Allah: Memahami keterbatasan pengetahuan manusia tentang ghaib seharusnya mendorong kita untuk lebih bertawakkal kepada Allah SWT. Alih-alih menghabiskan waktu untuk berspekulasi tentang masa depan yang tidak pasti, kita seharusnya fokus pada upaya terbaik yang dapat kita lakukan di masa kini, seraya menyerahkan segala hasilnya kepada Allah.
-
Menghindari Takhayul dan Perdukunan: Ayat ini secara tegas menolak praktik-praktik takhayul dan perdukunan yang mengklaim dapat mengetahui hal-hal ghaib. Praktik-praktik tersebut, selain menyesatkan, juga dapat merugikan individu dan masyarakat. Kita harus senantiasa berpegang teguh pada ajaran Islam yang benar dan menjauhi segala bentuk kesyirikan.
-
Menghayati Kemahakuasaan Allah: Ayat ini menegaskan kemahakuasaan dan kemaha-tahuannya Allah SWT. Hanya Allah yang memiliki pengetahuan mutlak tentang segala sesuatu, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Memahami hal ini seharusnya meningkatkan rasa takjub dan kekaguman kita terhadap kebesaran-Nya.
-
Kesadaran akan Hari Kiamat: Ayat ini juga mengingatkan kita tentang hari kiamat, suatu peristiwa ghaib yang waktunya hanya diketahui oleh Allah SWT. Kesadaran akan hari kiamat seharusnya mendorong kita untuk selalu mempersiapkan diri dengan beramal saleh dan bertaubat kepada Allah.
Penafsiran Ulama Terkemuka:
Buya Hamka, dalam Tafsir Al-Azhar, memberikan penafsiran yang senada dengan Tafsir Kemenag RI. Beliau menekankan bahwa tidak ada seorang pun, termasuk Nabi Muhammad SAW, yang mengetahui hal-hal yang akan terjadi di masa depan. Bahkan, Nabi pun hanya menyampaikan wahyu yang diterima dari Allah SWT. Buya Hamka juga menyinggung ketidaktahuan manusia, bahkan orang yang telah meninggal, tentang waktu kebangkitan mereka di hari kiamat. Hal ini semakin memperkuat pesan utama ayat ini tentang keterbatasan pengetahuan manusia dan kemaha-tahuannya Allah SWT.
Hadits dari Aisyah RA yang diriwayatkan oleh Muslim juga mendukung pemahaman ini. Hadits tersebut menegaskan bahwa barang siapa yang mengklaim Nabi Muhammad SAW mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan, maka ia telah berdusta terhadap Allah. Hal ini menunjukkan bahwa bahkan Nabi Muhammad SAW pun tidak memiliki pengetahuan ghaib di luar wahyu yang diterima dari Allah SWT.
Kesimpulan:
Surat An-Naml ayat 65 merupakan ayat yang sarat makna dan memiliki implikasi yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Ayat ini menegaskan bahwa hanya Allah SWT yang Maha Mengetahui hal-hal ghaib. Pemahaman yang benar terhadap ayat ini akan mendorong kita untuk lebih bertawakkal kepada Allah, menjauhi takhayul dan perdukunan, menghayati kemahakuasaan Allah, dan selalu mempersiapkan diri menghadapi hari kiamat. Ayat ini menjadi pengingat akan keterbatasan manusia dan sekaligus menjadi sumber kekuatan spiritual bagi mereka yang senantiasa berpegang teguh pada ajaran Islam yang benar. Dengan memahami ayat ini, kita dapat menumbuhkan rasa syukur atas nikmat pengetahuan yang Allah berikan dan sekaligus memohon petunjuk-Nya dalam menjalani kehidupan di dunia yang penuh dengan misteri dan ketidakpastian. Hanya dengan keimanan dan ketaatan kepada Allah SWT, kita dapat menemukan kedamaian dan ketenangan batin di tengah perjalanan hidup yang penuh tantangan ini.



