ERAMADANI.COM, DENPASAR – Untuk meningkatkan Uhkuwah Islamiyah antar anggota organisasi Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) mengelar pertemuan rutin pada Jumat (13/03/2020) pekan lalu, dari pukul 14.00 s.d 16.00 WITA.
Adapun lokasi kegiatan silaturrahmi atau agenda rutin ICMI Orwil Bali tersebut, dilangsungkan di rumah kediaman Dr H Dadang Hermawan di Jalan Jayagiri No 8 A Renon Denpasar.
Hadir dalam pertemuan tersebut sebanyak 40 orang anggota ICMI. Tidak hanya dari Denpasar para anggota yang hadir juga ada dari lintas kabupaten di Bali.
Rangkaian Acara Silaturahmi

Acara silaturahmi dibuka dengan lantunan ayat suci Al Quran. Para anggota ICMI Orwil Bali begitu khidmat mendengarkan. Kemudian acara dilanjutkan oleh Sambutan Ketua Umum ICMI Orwil Bali periode 2018-2023 Farida Hanum Ritonga .
Dalam sambutannya ia mengucapkan terimakasih atas kehadiran para anggota ICMI Orwil Bali yang bisa hadir dalam kesempatan tersebut.
Ia juga mendoakan beberapa anggota ICMI Orwil Bali yang berhalangan hadir karena sakit dapat segera pulih dari penyakit yang di deranya.
Konsep acara pertemuan ICMI Orwip Bali saat ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Tahun ini konsep pertemuan silaturahmi ICMI Orwil Bali dibuat sharing sesion sesuai kepakaran bidang masing-masing anggota.
Farida Hanum Ritonga memaparkan pula agenda program kerja yang akan terlaksana bulan depan yang bertepatan dengan Bulan Suci Ramadhan.
“Tiga program yang akan dilaksanakan di Bulan Ramadhan yakni santunan orang tua asuh bagi anak yatim piatu, baksos penjualan baju bekas layak pakai dan bazar, serta santunan bagi guru non pns dan memiliki masa bakti yang lama” terangnya.
“Saya berharap bapak dan ibu anggota ICMI Orwil Bali bisa mengambil peran dalam kegiatan ini” tambahnya.
Tak ketinggalan agenda utama silaturahmi adalah Dialog dengan Ketua Dewan Pakar ICMI Bali Dr H Dadang Hermawan dengan tema ” Kasih Sayang Allah swt”.
Diakhir agenda silaturahmi diadadakan doorprize dari para sponsor . Hadiah yang dibagikan merupakan produk dari usaha para anggota ICMI Orwil Bali .
Ketahui Tentang ICMI Orwil Bali

Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia disingkat ICMI adalah sebuah organisasi cendekiawan muslim di Indonesia yang dibentuk pada tanggal 7 Desember 1990 di sebuah pertemuan kaum cendekiawan muslim di Kota Malang tanggal 6-8 Desember 1990.
Dalam pertemuan itu juga dipilih Baharuddin Jusuf Habibie sebagai ketua ICMI yang pertama, dan saat ini Ketua Umum ICMI periode 2015-2020.
Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, S.H terpilih dalam Muktamar VI dan Milad ke-25 ICMI di Hotel Lombok Raya, Mataram, Nusa Tenggara Barat, Ahad (13/12/2015).
Kelahiran ICMI bukankah sebuah kebetulah sejarah belaka, tetapi erat kaitannya dengan perkembangan global dan regional di luar dan di dalam negeri.
Menjelang akhir dekade 1980-an dan awal dekade 1990-an, dunia ditandai dengan berakhirnya perang dingin dan konflik ideologi.
Seiring dengan itu semangat kebangkitan Islam di belahan dunia timur ditandai dengan tampilnya Islam sebagai ideologi peradaban dunia dan kekuatan altenatif bagi perkembangan perabadan dunia.
Bagi Barat, kebangkitan Islam ini menjadi masalah yang serius karena itu berarti hegemoni mereka terancam sebab adanya organisasasi ini.
Apa yang diproyeksikan sebagai konflik antar peradaban lahir dari perasaan Barat yang subjektif terhadap Islam sebagai kekuatan peradaban dunia.
Peradapan tersebut yang sedang bangkit kembali sehingga mengancam dominasi peradaban Barat saat itu.
Intelectual Booming

Kebangkitan umat Islam ditunjang dengan adanya ledakan kaum terdidik (intelectual booming) yang di kalangan kelas menengah kaum santri Indonesia.
Program dan kebijakan Orde Baru secara langsung maupun tidak langsung telah melahirkan generasi baru kaum santri yang berintelektual.
Mereka yang terpelajar, modern, berwawasan kosmopolitan, berbudaya kelas menengah, serta mendapat tempat pada institusi-institusi modern.
Pada akhirnya kaum santri dapat masuk ke jajaran birokrasi pemerintahan yang mulanya didominasi oleh kaum abangan dan di beberapa tempat oleh non muslim.
Posisi demikian jelas berpengaruh terhadap produk-produk kebijakan pemerintah yang saat itu di canagkan dan di rencanakan oleh pemerintah.
Pada tahun 80-an mitos bahwa umat Islam Indonesia merupakan mayoritas tetapi secara teknikal minoritas runtuh dengan sendirinya.
Sementara itu, pendidikan berbangsa dan bernegara yang diterima kaum santri di luar dan di dalam kampus telah mematangkan mereka.
Dari mereka itulah lahir critical mass yang responsif terhadap dinamika dan proses pembangunan yang sedang dijalankan.
Serta memperkuat tradisi inteletual melalui pergumulan ide dan gagasan yang diekpresikan baik melalui forum seminar maupun tulisan di media cetak dan buku-buku.
Seiring dengan itu juga terjadi perkembangan dan perubahan iklim politik yang makin kondusif bagi tumbuh kembangnya.
Kemudian saling pengertian antara umat Islam dengan komponen bangsa lainnya, termasuk yang berada di dalam birokrasi. (HAD)




