ERAMADANI.COM, JIMBARAN – Badan Eksekutif Mahasiswa Pemerintahan Mahasiswa (BEM PM) Universitas Udayana mengadakan kegiatan Leaders Talk sebagai agenda keenamnya.
Kegiatan ini berlangsung di Gedung Widya Shaba kampus Udayana Jimbaran. Peserta yang hadir lebih dari 700 orang dan memenuhi Gedung Widya Shaba dengan penuh antusias.
Dengan mengangkat tema “Go Beyond The Limit by Experience”, karena mahasiswa merupakan kaum intelektual yang menjadi poros utama dalam keseimbangan pemerintahan.
Serta kehidupan mahasiswa dapat merepresentasikan study government dengan terus menerus mengasah nalar kritis guna mengamalkan peran fungsi mahasiswa.
Rangkaian Acara Leaders Talk

Leaders Talk menghadirkan beberapa pembicara yaitu Presma BEM KM UGM 2019 M. Atiatul Muqtadir, Walikota Denpasar I.B. Rai Dharmawijaya Mantra, Ketua BEM UI 2019 Manik Marganamahendra dan beberapa tokoh penting dari organisasi internal kampus.
Tujuan dari acara ini adalah menginginkan generasi muda khususnya mahasiswa dapat mengembangkan diri mereka lewat wadah yang di sediakan salah satunya 6th Leaders Talk ini.
BEM PM Unud membuka acara ini untuk umum, agar turut membantu teman-teman millenial khususnya Bali untuk terus mengupgrade diri mereka.
Kresna selaku ketua pelaksana mengatakan bahwa panitia sudah mengemas kegiatan ini semenarik mungkin, karena tidak ingin peserta merasa bosan dengan kegiatan seminar yang monoton.
“Pembicara yang kita coba hadirkan bisa dikatakan cukup menarik perhatian, sehingga teman-teman secara tidak langsung merasa excited untuk datang ke sebuah acara seminar dan memerhatikan betul setiap materi yang dibawakan.” Ujarnya.
Gio Arjuna Putra Ketua DPM FH Unud 2019 selaku pembicara pertama mengatakan bahwa “Nalar kritis mahasiswa lahir dari rahim akademis”.
Menurutnya mahasiswa sebagai poros inti dalam penyeimbangan pemerintahan sangat perlu memiliki fokus terhadap akademik karena wawasan kebangsaan lahir dari orang-orang terpelajar.
Merdeka yang dimaksud adalah merdeka dalam diri sendiri dan merdeka terhadap kepentingan rakyat kecil. “Apakah sampai saat ini diri kita masih terkunci dalam apatisme, ketidakadilan dan ketidakpedulian terhadap sesame?” tanyanya.
Baginya, sangatlah perlu mahasiswa menjadi pelopor perubahan dan peduli terhadap kondisi masyarakat sekitar yang tidak sesuai dengan regulasi pemerintah yang sudah di canangkan.
Dilihat dari posisi penting para mahasiswa dalam penyeimbangan kehidupan sosial masyarakat dan pemerintah, sebagai penyambung lidah dari aspirasi yang dikeluhkan oleh masyarakat Indonesia.
Maka, mahasiswa harus dapat memanajemen diri. Ada banyak persoalan yang belum tuntas dan menjadi PR utama.
Pola utama yang biasa digunakan oleh mahasiswa adalah Organize to Maximize dimana mulai dari memanejemen organisasi yang baik sehingga menjadikan tujuan awal menjadi besar dan dapat tercapai.
Sebaik Baiknya Manusia Adalah Bermanfaat Bagi Orang Lain

“Jika sebagian besar manusia mengutamakan tujuan bergerak untuk mengambil alih sebuah kepemimpinan, maka saat ini bergerak bukan semata-mata untuk menjadi pemimpin saja tetapi untuk mengkolaborasikan agar tercapainya cita-cita yang kita harapkan.” Tutur Manik Marganamahendra Ketua BEM UI 2019.
Manik menyampaikan kita harus menghilangkan stereotype bahwa mahasiswa mengikuti organisasi hanya berfokus untuk menyelesaikan program kerja saja.
Dan sebagian orang selalu menganggap remeh aksi mahasiswa sedangkan itu merupakan bentuk dari kepedulian terhadap masyarakat Indonesia.
Menjadi seorang aktivis kampus, atau aktif di dalam kelas adalah pilihan masing-masing orang. Akan tetapi jangan sekali kali memberikan stigma bahwa orang-orang yang memilih jalannya dengan pandangan negatif.
Ada banyak perjuangan panjang yang akhirnya bisa membuat semua saling percaya satu sama lain.
“Agama saya hanyalah satu, yaitu kemanusiaan. Yang bisa mempersatukan satu sama lain.” Lanjut manik pada pesan yang ia sampaikan.
Keberanian atau menjadi seorang pemimpin yang baik adalah bermula dari sebuah proses dan proses tersebut salah satunya adalah dengan menjadi anggota yang baik.
Manik juga mengutip kata-kata dari Buya Hamka Kalau hidup hanya sekadar hidup, babi di hutan juga hidup. Kalau kerja hanya sekadar kerja, kerbau di sawah juga bekerja.
“Tugas kita hanyalah menjadi manusia yang berakal dan memiliki kepedulian, bukan seperti babi hutan, bukan juga kera.” pungkasnya.
Dengan tujuan memberikan semangat perjuangan kepada para peserta yang didominasi oleh mahasiswa berbagai perguruan tinggi di Bali.
Harapan 6th Leaders Talk
Acara 6th Leaders Talk ini diharapkan mahasiswa mampu belajar lebih dalam dari narasumber. Dengan berbagi pengalaman yang mereka lalui sebelum maupun setelah mereka menjadi seorang pemimpin.
Karena mungkin dirasa ilmu-ilmu seperti inilah yang tidak sembarang bisa didapatkan di internet atau dimanapun kecuali mendapat kesempatan untuk mendengar langsung melalui narasumber terkait.
BEM PM Unud ingin memberikan sesuatu yang sedikit berbeda disini (dalam konteks kepemimpinan). Bukan hanya sekedar teori, tapi bukti nyata yaitu sebuah pengalaman.
“Kepahlawanan bukanlah orang-orang besar yang melakukan kerja kerja kecil dan ditulis dalam otobiografinya. Naluri kepahlawanan haruslah tertanam dalam diri masing-masing orang. Gerakan vertikal dan gerakan horizontal harus diseimbangkan. Segala gerakan sebagian besar adalah kolaborasi bukan kompetisi.” Penjelasan Fathur Presma BEM KM UGM 2019.
Bagi Fathur pendidikan sejatinya adalah kesadaran. Keterjajahan harus dilawan dengan kemerdekaan. Intelektual bukan sekadar banyak sertifikat bukan sekadar banyak ilmu.
Intelektual adalah orang-orang yang punya keberanian, atau sekelompok kecil orang. Sebagian orang masuk kedalam creative community.
Orang oarang yang selalu mengusahakan menuju masyarakat yang lebih ideal dan lebih sejahtera.
“Pendidikan bukan menjadikan kita sarjana. Tapi menjadikan kita sebenar-benarnya manusia”, tegasnya.
Fakta menunjukan bahwa “tali toga dipindahkan dari kanan ke kiri karena untuk merepresentasikan bahwa selama perkuliahan kita cenderung menggunakan otak kanan dan ketika lulus kita di tuntut untuk menjadi seseorang yang menggunakan otak kiri.” Lanjut Fathur.
“Tugas kita sebagai manusia bukanlah hanya sekadar jadi manusia baik, tapi sebaik-baiknya manusia.“ Tegas Fathur diakhir sesi penyampaian materinya. (NNG)




